Kamis, 24 November 2011

MAKALAH TENTANG ABU BAKAR ASSIDDIQ AR


KATA PENGANTAR
   Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNYAlah sehingga kami dari kelompok dapat menyelesaikan tugas makalah ini tak lupa juga salam dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW semoga akan tetap tercurahkan kepada sang perengguk madu-madu asmara, yang dicintai sang Maha pecinta, semoga pancaran kesucian cintanya selalu menyelimuti kehidupan semesta ini sampai akhir zaman
      Adapun judul makalah kami yakni “SEJARAH KHALIFA ABU BAKAR AS SIDDIQ RADIALLAHU ANNHU”.Dalam penulisan makalah ini kami sedikit mendapat kesulitan namun karena kekompakan dari teman-teman sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Muda-mudahan dapat bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi untuk kedepannya.
      Kami sadar bahwa makalah yang kami susun jauh dari kesempurnaan bahkan masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami mengaharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini
      Akhirnya penyusun mengucapkan  banyak terimah kasih kepada Bapak dosen dan rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu baik dalam penyusunan maupun dalam penulisan makalah ini.

*****TERIMAH KASIH*****

Polewali, 31 Oktober 2011


                                                                                                   Penyusun



BAB 1
Pendahuluan
A.     Latar Belakang Masalah
Dalam rentang waktu penyebaran agama  Islam pada masa Rasul sampai masa Khulafa’ Ar-Rasyidun menyisakan banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Perjuangan Rasul menyi’arkan agama Islam dengan cara diam-diam serta terang-terangan pada masyarakat Arab yang mengakibatkan banyaknya cemoohan pada diri beliau, kemudian Hijrahnya kaum muslimin dari Makkah ke Madinah, sampai wafatnya Rasul yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ali terlihat banyak hal yang dapat kita ambil nilai-nilai positif darinya.
Diantaranya adalah nilai potif dari aspek pendidikan Islam yang diajarkan oleh beliau. Begitu luasnya nilai-nilai itu, sehingga membutuhkan penafsiran kita dari sejarah yang ada untuk menggali nilai-nilai pendidikan itu.
Oleh karena itu, dalam makalah ini sedikit banyak akan menggali nilai-nilai pendidikan Islam pada masa Khulafa’ Ar-Rasyidun, khususnya pada masa Abu Bakar As Siddiq Radiallahu annhu.
B.     Rumusan Masalah
1. Siapa Abu Bakar ash-Siddiq itu dan bagaimana sejarah ke khalifaan Abu Bakar            Ash-  Siddiq?
2. Apa peran dan fungsi Abu Bakar ash-Siddiq?
3. Problem apa yang di hadapi Abu Bakar ash-Siddiq?
4. Bagaimana proses-proses kebijakan pada kepemimpinan Abu Bakar ash-Siddiq?
5. Apa saja faktor-faktor keberhasilan di masa Abu Bakar ash-Siddiq?
6. Apa rekonstruksi di dalam pendidikan kekinian?






BAB II
A.      Dasar Ayat

Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam firman-Nya : “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah : 40)
`Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Abu Bakar-lah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”Allah juga berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orangorang yang bertakwa.” (az-Zumar : 33)Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar :”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengah-tengah para Shahabat?”
 “Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa`id radhiyallahu` anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda :”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari)

B.       Pembahasan Kisah
1.      dan kepribadian abu bakar sebelum masuk islam
                            Abu Bakar Ash-Siddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Ustman bin Amr bin Masud Taim bin Murrah bin ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taiman Al-Quraisy ). Dilahirkan pada tahun 573 M. Ayahnya bernama Ustman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, yang mana berasal dari suku Quraisy.  Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salamah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya ketemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.[i] Dimasa jahiliyyah barnama Abdul Ka’ab, lalu ditukar oleh nabi menjadi Abdullah Kuniyyahnya Abu Bakar. Beliau diberi kuniyah Abu Bakar (pemagi) kerena dipagi-pagi betul beliau telah masuk Islam. Gelarnya Ash-Siddiq (yang membenarkan). Beliau di beri gelar ash-siddiq karena amat segera membenarkan rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra’ Mi’raj.
            Perihal perawakan Abu bakar, menurut riwayat putrinya,Siti Aisya (Ummul Mukminin) bahwa kulitnya putih, badannya kurus, pipinya tipis, mukanya kurus, matanya cekung, dan keningnya menjorok ke depan. Perihal ahlaknya, menurut Ibnu Hisyam beliau terkenal sebagai seorang pemurah, ramah,pandai bergaul dan suka menolong.
                  Abu Bakar merupakan orang yang peretama masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Baginya, tidakalah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Dikarenakan sejak kecil, ia telah mengenal keagungan nabi Muhammad SAW. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumbuhkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam. Tercatat dalam sejarah, dia pernah membela nabi tatkala nabi disakiti oleh suku Quraisy, menemani Rasul hijrah, membantu kaum yang lemah dan memerdekakannya , seperti Bilal, setia dalam setiap peperanngan, dan lain-lain.
            Abu Bakar juga mempunyai sifat sabar, berani, tegas, dan bijaksana. Karena kesabarannya banyak sahabat masuk Islam karena ajakannya, seperti: Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas'ud, dan Arqom bin Abil Arqom.
            Pada saat pertempuran di Ajnadain negeri syam berlangsung, khalifah Abu Bakar menderita sakit. sebelum wafat, beliau telah berwasiat kepada para sahabatnya, bahwa khalifah pengganti setelah dirinya adalah umar bin Khattab. hal ini dilakukan guna menghindari perpecahan diantara kaum muslimin.
Beberapa saat setelah Abu Bakar wafat, para sahabat langsung mengadakan musyawarah untuk menentukan khakifah selanjutnya. telah disepakati dengan bulat oleh umat Islam bahwa Umar bin Khattab yang menjabat sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar. piagam penetapan itu ditulis sendiri oleh Abu Bakar sebelum wafat.Setelah pemerintahan 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 – 13 / 632 – 634 M),khalifah Abu Bakar wafat pada tanggal 21 jumadil Akhir tahun 13 H / 22 Agustus 634 Masehi.
2.    Peran Dan Fungsi Abu Bakar Sebagai Khalifah (proses peralihan kepemimpingan)
Berita wafatnya rasulullah menggemparkan umat islam. Sebagian mereka tidak mempercayai berita itu, kere dalam shalat subuh sebelum itu, bekiau hadir di masjid. Berita itu dianggap desas-desus untuk mengacaukan kaum muslimin. Umar bin Khattab sendiri termasuk orang yang tidak mempercayainya.Sesudah mendengar berita itu, Abu Bakar langsung masuk kerumah rasulullah dan menyaksikan rasulullah telah terbujur ditunggui oleh Aisyah, Ali bin Abi Thalib serta beberapa orang kerabat dekat beliau, ucapan Abu Bakar ketika melihat jenazah rasulullah, "Alangkah baiknya anda hidup dan alangkah baiknya pula ketika anda wafat", Abu Bakar dibai'at sebagai khalifah pertama pada tahun 11 H atau 632 M.Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari pidato Abu Bakar ketika dia diangkat menjadi Khalifah. Isi pidatonya sebagai berikut: “Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik diantara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskan aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah diantara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat diantara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, Insya Allah. Jagnganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasulnya, sekali-kali janganlah kamu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”
Pidatonya diatas, menunjukkan garis besar politik kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Didalamya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa.
3.    Problem Yang di Hadapi Abu Bakar Ash-Siddiq
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Islam mulai tersiar sesudah kesepakatan al-Hudaibiyah. Jadi enam tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi, yakni setelah Hawazin dan Tsaqif dapat dikalahkan, mulailah delegasi berdatangan mengahadap Rasulullah untuk menyatakan keIslaman mereka. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriyah.
Fakta diatas dapat memberikan kesimpulan bahwa pada saat nabi wafat, agama Islam belum masuk mendalam pada penduduk Arab. Diantara mereka ada yang menyatakan masuk Islam tetapi belum mempelajari ajaran Islam.Adapula yang hanya untuk menghindari peperangan dengan kaum muslimin, ada pula karena ingin mendaptkan barang rampasan atau kedudukan. Sehingga setelah nabi wafat bagi orang-orang yang demikian dan yang lemah imannya,menjadi kesempatan untuk menyatakan terus terang apa yang tersembunyi dalam hati mereka, lalu murtadlah mereka.
Demikian juga pada sisi sukuisme orang Arab yang bergitu kental. Islam datang dicanagkan supaya orang hidup dalam satu keluarga besar , yakni keluarga Islam. Banyak orang Arab malihat bahwa agama Islam telah menjadikan suku Quraisy diatas suku-suku yang lain. Hal tersebut terindikasi dari bahwa suku Quraisy tetap mempertahankan kekuasaan itu, bertambah kuatlah gerakan untuk melepaskan diri dari Islam dan tampillah diantara suku-suku bangsa Arab orang yang mengaku dirinya Nabi. Diantara orang-orang yang mengaku dirinya Nabi ialah: Musailimatul Kazzab dari Bani Hanifah, Al-Aswad al-Ansi’, Thulaihah ibnu Khuwailid dari Bani Asad.
Adapula golongan yang salah menafsirkan sejumlah ayat Al-Quran atau salah memahaminya. Diantaranya salah memahami QS. At-Taubah 103 :
Ambillah sedekah daripada harta mereka, buat pembersihkannyapenghapuskan kesalahannya.” (At-Taubah 103)
QS al-Mi’raj 24-25:
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (QS. Al-Mi’raj 24-25)
Meraka mengira bahwa hanya Nabi Muhammad sajalah yang berhak memungut zakat, karena beliaulah yang disuruh mengambil zakat pada ayat tersebut.
Maka pada situsai yang demikian Abu Bakar dan sahabat bermusyawarah dengan para sahabat dan kaum muslimin untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini.
Diantara kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa tidak akan memerangi bangsa arab seluruhnya, dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada suatu alasan untuk memerangi orang yang tidak mau membayar zakat selama mereka masih tetap dalam keimanannya (masih percaya kepada Allah, Rasul dan lain-lain).
Dalam keadaan yang sulit inilah dituntut kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar serta ketegasannya sebagai pemimpin. Dengan tegas dinyatakannya bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, yang mengaku menjadi nabi ataupun yang tidak mau membayar zakat, sampai semuanya kembali pada kebenaran atau beliau gugur sebagai syahid dalam memperjuangkan agama Allah. Yang pada akhirnya Abu Bakar menyerukan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Ajaran Islam yang benar, bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan kesesatannya diperangi.
Setelah semuanya selesai, tanah Arab pun bersatu kembali dan bertambah kuatlah berpegangan kepada ajaran Allah.
Pada saat bergolaknya masyarakat arab, harapan bangsa Persia dan Romawi untuk menghancurkan agama Islam hidup kembali. Bangsa Romawi dan Persia menyokong pergolakan ini, serta melindungi orang-orang yang mengadakan pemberontakan itu.[vii] Oleh karena itu, setelah tanah arab kembali – bersiplah kaum muslimin berangkat keutara guna menghadapi dua musuh besar yang sedang menunggu waktu yang baik untuk menghancurkan Islam.
4.    Langkah-langkah kebijakan Abu Bakar

Sebelum rasulullah wafat, beliau telah menyiapkan sepasukan tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. tetapi sebelum tentara Usamah jadi berangkat beliau telah wafat. sebagian sahabat ada yang mengusulkan kepada Abu Bakar agar beliau membatalkan pasukan tentara usamah yang diperintahkan rasulullah itu dan dikirim saja untuk memerangi orang-orang yang murtad.Oleh karena itu beliau menjawab "Demi Allah" saya tidak akan menurunakan bendera yang telah dipasang oleh rasulullah. disamping itu sebagian sahabat ada yang mengusulkan agar melepas usamah dari jabatannya itu kepada orang lain yang lebih tua dari padanya. Abu Bakar sangat marah mendengar berita itu lalu berkata "saya tidak akan menurunkan diakarena rasulullah SAW sudah mengangkat dia sebagai tentara.Maka berangkatlah tentara itu menyerang benteng musuh serta membawa harta rampasan dan kembali ke Madinah dengan kemenangan.Di antara pesan-pesan Abu Bakar kepada para prajurit yang berperang dan benar-benar bijaksana itu: "jangan kamu khianat, janganlah kamu durhaka, janganlah kamu aniaya, janganlah membunuh anak-anak kecil dan orang tua. jangan ,erusak pohon yang berbuah, membunuh binatang kambing,unta,dan lembu kecuali dimakan dagingnya. "Setelah rasulullah wafat, muncullah kesulitan-kesulitan yang dihadapi umat islam dibawah pimpinan Abu Bakar, diantaranya yang terpenting adalah menghadapi orang-orang yang mengaku nabi, menghadapi orang-orang murtad, dan orang-orang yang membangkang tidak mau membayar pajak.
a.    Menumpas nabi palsu
Ada empat orang yang menamakan dirinya sebagai nabi. padahal islam mengajarkan bahwa Nabi muhammad SAW adalah nabi akhiruzzaman. keempat yang mengaku nabi itu adalah nabi palasu. yaitu Musailamah Al kazab dari bani hanifah di yamamah, Sajah tamimiyah dari bani tamim, Al aswad Al Anshi dari yaman dan tulaihah bin khuwailid dari bania saddi Nejed.Adanya nabi-nabi palsu itu pasti membahayakan kehidupan agama dan negara islam. khalifah Abu Bakar menugaskan pasukan islam untuk menumpas mereka dan pengikut-pengikutnya, penumpasan itu 'berhasil dengan gemilang dibawah pimpinan panglima Khalid bin Walid. Musailamah dibunuh oleh Washy, Al Aswad dibunuh oleh istrinya sendiri, Tulaihah dan Sajad lari dan menyembunyikan diri.
b.    Memberantas kaum murtad
Berita wafatnya rasulullah SAW, berakibat menggoyahkan iman bagi orang-orang islam yang masih tipis imannya, banyak orang menyatakan dirinya keluar dari Islam (murtad). tidak mau shalat dan tidak lagi membayar zakat. bahkan ada sementara daerah-daerah memisahkan dari dengan pemerintahan pusat di madinah, sedangkan daerah-daerah yang masih setia adalah Madinah, Mekah dan thaif.Abu Bakar berunding dengan para sahabat yang lain dalam menghadapi para kaum murtad itu. mereka sepakat menyeru agar bertaubat, jika tidak mau sadar, mereka akan dihadapi dengan menggunakan kekerasan. Tetapi usaha lemah lembut dari pemerintahan Islam di Madinah itu mereka abaikan, kaum murtad didukung oleh kekuatan besar kurang lebih 40.000 orang. muslimin menghadapi mereka dengan pasukan yang besar pula, Abu Bakar mengirim ekspedisi dibawah pimpinan Ikhrimah bin Abu Jahal, Syurahbil bin Hasnah, Amru bin Ash, dan khalid bin Walid. Tindakan tegas kaum muslimiin itu dapat melumpuhkan kekuatan kaum murtad,! sehingga mereka kembali mentaati perintah syariat Islam.Abu Bakar berhasil dalam usaha ini, sehingga wilayah Islam utuh kembali.
c.    Menghadapi kaum yang ingkar zakat
Banyak diantara kaum muslimin yang pemahaman mereka, terhadap hukum Islam belum mendalam dan imannya masih tipis, mereka beanggapan bahwa kewajiban berzakat hanya semata-mata untuk nabi. karena nabi telah wafat, maka bebaslah mereka dari kewajiban untuk berzakat.padahal zakat adalah salah satu rukun Islam yang harus ditegakkan.Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat menghadapi kaum ingkar zakat itu. meskipun keputusan musyawarah itu tidak bulat, Abu Bakar tetap teguh pada pendiriannya bahwa kewajiban zakat harus dilaksanakan. mereka yang membangkang harus diperangi. Sebelum pasukan muslimin dikerahkan, Abu Bakar terlebih dahulu mengirimkan surat kepada pembangkang agar kembali ke Islam. namun sebagian besar mereka tetap bersikeras, karena itu pasukan muslimin pun dikerahkan dan dalam waktu yang relatif singkat pasukan Abu Bakar telah berhasil dengan gemilang.Dengan berhasilnya kaum muslimin ini, keadaan negara Arab kembali tenang, dan suasana umat Islam pun kembali damai.seluruh kabilah taat kembali membayar zakat sebagaimana pada masa rasulullah SAW.
d.    Mengumpulkan ayat-ayat Al-Qu'an
Akibat peperangan yang sering dialami oleh kaum muslimin, banyak penghafal Al-Qur'an (huffadz) yang gugur sebagai syuhada dalam pertempuran. Jumlahnya tidak kurang dari 70 orang sahabat.Hal ini menimbulkan kekhawatiran dikalangan umat Islam serta kecemasan dihati Umar bin Khattab akan kehilangan ayat suci Al-Qur'an itu. Maka dinasehatkan kepada Abu Bakar agar ayat-ayt Qur'an dikumpulkan.Atas saran-saran dari Umar bin Khattab pada awal 13 H Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Qur'an menjadi Mushaf. Mengingat dahulu berserakan dalam dada penghafal, bahkan ada yang di tulis di atas batu,padakain,tulang dan sebagainya.

5.    Faktor-Faktor Keberhasilan Abu Bakar Ash-Siddiq
Fakta histories menunjukkan bahwa pemerintahan Abu Bakar banyak menuai keberhasilan, baik keberhasilan internal maupun eksternal. pada sisi internal ia telah berhasil meyelesaikan konflik antar umat Islam. Pada sisi lain ia berhasil memperluas wilayah Islam sebagai wujud penyebarluasan ajaran Islam.keberhasilan diantaranya dilatarbelakangi oleh faktor pembangunan pranata dibidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut berbicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislative. Hal ini mendorong para tokok sahabat, khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif  untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.
6.    Rekonstruksi Pendidikan di Masa Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar ash-Siddiq)  dengan Pendidikan Kekinian
Dari sekian pemaparan yang ada diatas, setidaknya ada dua prinsip nilai-nilai pendidikan islam;
1. kebebasan berpendapat yang terwujud dalam musyawarah,
2. Tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa yang terwujud dalam pribadi beliau dengan sikap disiplin dan tegas.

Dengan melihat kondisi pendidikan kita hari ini, khususnya pendidikan islam di Indonesia yang semakin lama semakin jauh dari nilai-nilai keislaman, kiranya perlu untuk mengambil dan menjalankan nilai-nilai yang ada pada masa Abu Bakar.Pada konterks tertentu tidak lagi terjadi kesewenang-wenangan dari pemerintah atau pelaksana pendidikan kepada masyarakat kecil, sehingga terwujudnya pranata pendidikan yang dapat dinikmati oleh semua pihak. Sehingga orientasi pendidikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia berupa keuntungan materi semata (komersialisasi pendidikan). Akan tetapi perlu diiringi dengan nilai spiritual yang pada masa Abu Bakar adanya tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa.
Sistem pembelajaran yang ada di lembaga-lembaga pendidikan masih jauh dari harapan nilai-nilai keislaman, pada konteks kedisiplinan, uswatun hasanah dari pendidik, serta ketidak istiqomahan pola pendidikan kita.Jadi bukanlah hanya menyampaikan materi pelajaran pada keonteks formal saja (dalam kelas), tanpa ikuti degan sikap berupa tindakan keseharian pendidik kepada anak didik dalam kondisi apapun.
C.   Hikmah
Ketika Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., merasa ajalnya hampir tiba, beliau memanggil putri tercintanya Ummul Mukminin Siti Aisyah r.a., dan berkata kepada putri tercintanya itu dengan ucapan “wahai Aisyah, aku telah diserahi urusan kaum mukminin dan tidak ada tersisa sedikit pun dari harta kaum muslimin di tanganku, kami telah makan makanan yang sederhana dan yang keras-keras pada perut kami, dan kami memakai pakaian yang sederhana dan kasar pada punggung kami. Yang tersisa dari harta kaum muslimin adalah unta untuk mengairi ladang, dan seorang pelayan (pembantu) rumah tangga, dan sehelai permadani yang usang. Kalau aku wafat, kirimkan semua itu kepada Umar karena aku tidak ingin menghadap Allah SwT padahal masih ada sedikit harta kaum muslimin d tanganku.
Subhanallah, itulah Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Salah seorang sahabat Rasulullah yang menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah Saw. Betapa indah dan agungnya akhlak beliau. Sebelum wafat, beliau periksa terlebih dahulu apakah masih ada yang tersisa harta umat yang diamanahi kepadanya. Ketika masih tersisa beliau perintahkan putri tercintanya Ummul Mukminin Siti Aisyah r.a., jika beliau wafat untuk diserahkan kepada Sayyidina Umar bin Khattab agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi kepentingan umat. Hal itu dilakukan, karena beliau sangat khawatir jika wafat dan menghadap kepada Allah SwT, ternyata di tangannya masih ada harta umat yang belum diserahkan kembali kepada umat.
Itulah mengapa Islam sangat berjaya pada masa itu, pemimpinnya tidak punya niatan sedikit pun yang terbersit dalam hati mereka untuk memanfaatkan jabatan yang diamanahi dalam rangka memperkaya diri sendiri, tidak ada usaha sedikit pun untuk bertindak korupsi, yang salah dikatakan salah dan yang benar dikatakan benar. Tidak berlaku dzholim terhadap rakyat yang dipimpinnya. Justru rakyat sangat diperhatikan dengan penuh kasih sayang. Kebutuhan rakyat lebih didahulukan dibandingkan dengan kebutuhan pribadi.Sangat kontras dengan apa yang terjadi saat ini. Semua berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin. Mengumbar janji akan memperhatikan nasib rakyatnya. namun itu semua hanyalah slogan semata. Janji tinggallah janji, setelah memimpin semuanya terkena amnesia, lupa dengan janji yang diutarakan dengan penuh semangat. Istilahnya, boro-boro mau menyerahkan harta milik rakyat yang dipegangnya, kalau bisa sebanyak-banyaknya dikumpulkan untuk dinikmati setelah lengser dari jabatannya. Tidak lagi memikirkan haram atau halal, yang penting terabas dan dapat apa yang diinginkan. Maka korupsi, kolusi dan manipulasi tumbuh subur dan sangat susah untuk diberantas karena semuanya berpikir seperti itu. Rakyat dan segala macam kebutuhannya mungkin berada diurutan yang buncit dalam skala prioritas mereka. Rakyat hanya dijadikan komoditas politik saja. Berbeda dengan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sahabat-sahabat Rasulullah Saw yang dengan tulus ikhlas memimpin, segala pengorbanan diupayakan untuk kepentingan dan kebutuhan rakyat, tidak boleh ada yang terdzholimi.
Namun, tentunya kita tidak boleh berhenti untuk terus berharap kepada Allah SwT, agar Allah SwT berkenan mengirimkan kepada kita seorang pemimpin yang adil seperti para sahabat Rasulullah Saw, yang penuh dengan kasih sayang memperhatikan nasib rakyatnya. Sampai-sampai mereka khawatir ada harta umat atau rakyat yang masih mereka pegang tatkala ajal menjemput. Mereka khawatir Allah murka, mereka malu menghadap Allah SwT dengan harta rakyat berada di tangan mereka. Wallaahu a’lam.

BAB III
Penutup
A.  Kesimpulan
Pada masa Abu Bakar menunjukkan garis besar politik kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Didalamya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa.
Fakta histories menunjukkan bahwa pemerintahan Abu Bakar banyak menuai keberhasilan, baik keberhasilan internal maupun eksternal. pada sisi internal ia telah berhasil meyelesaikan konflik antar umat Islam. Pada sisi lain ia berhasil memperluas wilayah Islam sebagai wujud penyebarluasan ajaran Islam.
keberhasilan diantaranya dilatarbelakangi oleh faktor pembangunan pranata dibidang politik dan pertahanan keamanan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut berbicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislative. Hal ini mendorong para tokok sahabat, khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif  untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.
Ada dua prinsip nilai-nilai pendidikan islam; 1. kebebasan berpendapat yang terwujud dalam musyawarah, 2. Tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, serta shalat sebagai intisari takwa yang terwujud dalam pribadi beliau dengan sikap disiplin dan tegas.

B.   Saran

Sungguh kehidupan saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq a r adalah penuh dengan ibarat, penuh dengan nasihat, penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan kekuatan Islam
Namun, tentunya kita tidak boleh berhenti untuk terus berharap kepada Allah SwT, agar Allah SwT berkenan mengirimkan kepada kita seorang pemimpin yang adil seperti para sahabat Rasulullah Saw, yang penuh dengan kasih sayang memperhatikan nasib rakyatnya. Sampai-sampai mereka khawatir ada harta umat atau rakyat yang masih mereka pegang tatkala ajal menjemput. Mereka khawatir Allah murka, mereka malu menghadap Allah SwT dengan harta rakyat berada di tangan mereka. Wallaahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar